Mas Jatmikobwi’s Blog

OJO LALI COBLOS BRENGOSE

welehhh..welehhhhh..yang embarkasi surabaya..jangan marah-marah..

check..link ini. http://www.4shared.com/get/299132537/e5b3b31b/arsip_pengumuman_tkhi.html

atau download link di atas…….dengan cara..masuk http://www.4shared.com…………………..cari file di file search…ketikkan arsip pengumuman tkhi.xls..trus kalu dah ketemu linknya ..monggo di download..informasikan ke teman teman lainnya

best wishes

Mei 26, 2010 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Jabon, prospek kayu yang menjanjikan

Jabon (Anthocephalus cadamba Miq.) merupakan jenis tumbuhan lokal yang dapat direkomendasikan untuk dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman, karena jenis ini mudah tumbuh, pemanfaatan kayunya sudah dikenal luas oleh masyarakat, prospek pemasarannya cukup tinggi, tersebar di seluruh Indonesia, dan teknik silvikultumya telah diketahui. Jabon dapat dikembangkan hampir di seluruh Indonesia dan seyogyanya dikonsentrasikan di daerah yang merupakan habitat alaminya yaitu: Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, seluruh Sulawesi, Nusa Tenggara Barat dan Irian Jaya. Untuk mendukung keberhasilan pengadaan bibit, perlu ditunjuk tegakan benih/areal pengumpulan benihnya.
informasi sekilas dapat dilacak pada situs berikut ini. http://www.bpphp15.dephut.go.id/Gambar%20Jenis%20Kayu.pdf

Desember 13, 2008 Posted by | kehutanan | Tinggalkan komentar

PEMANASAN GLOBAL DAN DAMPAKNYA TERHADAP KESEHATAN

Pemanasan global tak hanya berdampak serius pada lingkungan manusia di bumi namun juga terhadap kesehatan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam pertemuan tahunan di Genewa mengatakan bahwa berbagai penyakit infeksi yang timbul diidentifikasi terkait dengan perubahan lingkungan hidup yang drastis. Kerusakan hutan, perluasan kota, pembukaan lahan untuk pertanian, pertambangan, serta kerusakan ekosistem di kawasan pesisir memicu munculnya patogen lama maupun baru. Berbagai penyakit yang ditimbulkan parasit juga meningkat terutama di wilayah yang sering mengalami kekeringan dan banjir.

Pemanasan global juga menyebabkan musim penyerbukan berlangsung lebih lama sehingga meningkatkan resiko munculnya penyakit yang ditimbulkan oleh kutu di wilayah Eropa Utara. Peyakit lain yang teridentifikasi adalah lyme, yang disebabkan oleh semacam bakteri di Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Gejalanya berupa sakit kepala, kejang, dan nyeri sendi. Penyakit itu berpindah melalui gigitan sejenis kutu rusa yang yang telah terinfeksi lyme. Bakteri yang sama juga benyek ditemukan pada tikus. Dampak lain yang terasa adalah nyamuk-nyamuk semakin berkembang biak erutama di Afrika dan Asia. Dua penyakit serius akibat gigitan nyamuk, yaitu malaria dan demam berdarah dengue, sangat sensitif terhadap perubahan iklim. Di Indonesia kita sudah merasakannya langsung, yakni tingginya angka korban yang menderita demam berdarah.

WHO juga menyebutkan ancaman lain dari meningkatnya suhu rata-rata global, yakni penyakit yang menyerang saluran pernapasan. “Gelombang panas menyebabkan jumlah materi dan debu di udara meningkat,” kata Bettina Menne, anggota WHO divisi Eropa. Suhu udara yang semakin hangat juga membawa penyakit alergi. Kenaikan permukaan air laut akan mengakibatkan banjir dan erosi, terutama di kawasan pesisir, dan mencemari sumber-sumber air bersih. Akibatnya adalah wabah kolera dan malaria di negara miskin. Wilayah di Asia selatan, terutama Bangladesh disebut sebagai wilayah yang paling rawan karena berada di dataran rendah dan sering mengalami banjir. Mencairnya puncak es Himalaya, luasnya daerah gurun pasir dan wilayah pesisir pantai yang tercemar merupakan sarana penularan penyakit, hal ini juga menyebabkan angka kekurangan gizi pada anak-anak.

Maria Neira, direktur WHO untuk layanan kesehatan publik mengatakan bahwa kebutuhan akan peraturan penyelamatan lingkungan semakin mendesak. Menurutnya dampak dari pemanasan global sangat luas, tidak terbatas pada masalah lingkungan dan dampak ekonomi saja, namun menyangkut kesehatan manusia. Ia meminta para ahli kesehatan untuk lebih aktif terlibat dalam pembuatan peraturan tentang penggunaan energi dan konservasi lingkungan. Neira juga mengatakan agar para pemimpin politik menyiapkan tindakan yang cepat dalam menghadapi berbagai wabah penyakit.

Sebuah acara Talkshow Sudut Bidik Iptek yang tayang di QTV dan TV Swara narasumber Prof. Amin Soebandrio,PhD, SpMK (Staf Ahli Menteri Negara Riset dan Teknologi Bidang Pangan dan Kesehatan) bersama Dr. Wan Alkadri, Msc (Direktur Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan).

Pada awal pembicaraan, Bapak Amin Soebandrio menjelaskan secara singkat Pemanasan Global (Global Warming) yang semakin dirasakan oleh masyarakat, terjadi disebabkan meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi. Hal ini terjadi karena bumi menyerap lebih banyak energi matahari, daripada yang dilepas kembali ke atmosfer (ruang angkasa), sehingga sinar matahari terperangkap yang menyebabkan terjadinya peningkatan emisi gas. Hal ini akan menimbulkan peningkatan panas bumi dan pencairan kutub es.

Pak Wan Alkadri menjelaskan yang paling nyata dampak pemanasan global, antara lain kerusakan lingkungan (banjir, kebakaran hutan, dll). Hal ini berdampak terhadap kesehatan manusia, misalnya kwalitas air yang kita minum, udara yang kita hirup, makanan yang kita makan. Banyak penyakit yang ditimbulkan oleh perubahan iklim akibat pemanasan global, diantaranya penyakit lama timbul kembali, misalnya penyakit Malaria yang wilayah penyebarannya makin meluas.Hal ini diperkuat oleh Pak Amin mengingat nyamuk berkembang biak pada suhu lembab dan panas, maka dengan bertambahnya nyamuk, maka kontak dengan manusia juga bertambah.

Pak Amin juga menjelaskan dampak pemanasan global secara langsung (mis. pada suhu panas membuat manusia rentan sakit) dan dampak tidak langsung (mis. meningkatnya penyakit menular, antara lain : malaria, DBD,penyakit yang ditularkan melalui udara, melalui air) serta dampak jangka panjang, mis. perubahan tinggi air yang dapat mengakibatkan persediaan air bersih menurun, daerah yang kaya jadi miskin, yang dapat menimbulkan terjadinya konflik, dan kemudian menimbulkan masalah psikologi, mis. stress.

Ada 35 jenis penyakit infeksi baru yang timbul akibat perubahan iklim, diantaranya ebola, flu burung, dll penyakit hewan yang dapat menular kepada manusia. Penyakit yang paling rentan terjadi di Indonesia, menurut Pak Wan adalah penyakit degeneratif dan penyakit menular. Hal ini dapat dengan cepat berkembang pada masyarakat yang kondisi gizi kurang baik dan kondisi kesehatan lingkungan yang kurang memadai.

Menurut Pak Amin, ada 4 bidang penelitian kesehatan, yaitu (1)di bidang gizi, ketersediaan pangan, (2)pengembangan obat-obatan, termasuk obat tradisional, (3)pengendalian penyakit : penyakit menular dan tidak menular, mis. typus; penyakit degeneratif, mis. penyakit jantung, paru-paru. Biasanya yang paling mudah kena adalah yang paling sensitif yaitu bayi dan orang tua, dan (4)upaya untuk mampu memproduksi alat-alat kesehatan, mis alat deteksi penyakit menular sejak dini.

Selanjutnya pak Amin juga menjelaskan salah satu langkah pencegahan melalui Sistem Bio Informatika, yaitu penanganan perubahan dengan mengadakan peringatan dini sebelum terjadi wabah, maka diharapkan wabah penyakit dapat dicegah.
Dari sisi kesehatan lingkungan, salah satu upaya yang dilakukang oleh Depkes adalah Mengembangkan Desa Sehat, yang diharapkan masyarakat tau mengatasi permasalahan yang timbul. Kemudian mencari sumber CO2 yaitu pemakaian energi. Untuk itu, Depkes mengembangkan teknologi yang ramah lingkungan, antara lain memakai pengamanan vaksin (dulu memakai minyak tanah, sekarang memakai tenaga surya) serta mengubah perilaku masyarakat (menghemat pemakaian minyak tanah yaitu dengan meminum air minum isi ulang).

Mengakhiri pembicaraan, Pak Wan menyampaikan bahwa kondisi dan strategi program kesehatan yang kita kembangkan masih relevan. Dilanjutkan oleh Pak Amin, bahwa kita dapat mengendalikan perubahan yang terjadi akibat pemanasan global dengan mengendalikan sumbernya pada transportasi, pertanian, dlll sehingga efek rumah kaca menurun, serta kita dapat mencegah dengan memelihara lingkungan hidup, yang dimulai dari diri kita sendiri.

Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.

Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air). Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Akibat pemanasan global maka pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.

Dampak Pemanasan global terhadap Tinggi muka laut

Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 – 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 – 35 inchi) pada abad ke-21.

Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.

Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades.

Dampak Pemanasan global terhadap Pertanian

Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.

Dampak pemanasan global terhadap Hewan dan tumbuhan

Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.

Dampak pemanasan global terhadap Kesehatan manusia

Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria; persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti demam dengue, demam kuning, dan encephalitis. Para ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari.

Persetujuan internasional tentang pemanasan global

Kerjasama internasional diperlukan untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca. Di tahun 1992, pada Earth Summit di Rio de Janeiro, Brazil, 150 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untuk menterjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang mengikat. Pada tahun 1997 di Jepang, 160 negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan Protokol Kyoto.

Perjanjian ini, yang belum diimplementasikan, menyerukan kepada 38 negara-negara industri yang memegang persentase paling besar dalam melepaskan gas-gas rumah kaca untuk memotong emisi mereka ke tingkat 5 persen di bawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini harus dapat dicapai paling lambat tahun 2012. Pada mulanya, Amerika Serikat mengajukan diri untuk melakukan pemotongan yang lebih ambisius, menjanjikan pengurangan emisi hingga 7 persen di bawah tingkat 1990; Uni Eropa, yang menginginkan perjanjian yang lebih keras, berkomitmen 8 persen; dan Jepang 6 persen. Sisa 122 negara lainnya, sebagian besar negara berkembang, tidak diminta untuk berkomitmen dalam pengurangan emisi gas.

Akan tetapi, pada tahun 2001, Presiden Amerika Serikat yang baru terpilih, George W. Bush mengumumkan bahwa perjanjian untuk pengurangan karbon dioksida tersebut menelan biaya yang sangat besar. Ia juga menyangkal dengan menyatakan bahwa negara-negara berkembang tidak dibebani dengan persyaratan pengurangan karbon dioksida ini. Kyoto Protokol tidak berpengaruh apa-apa bila negara-negara industri yang bertanggung jawab menyumbang 55 persen dari emisi gas rumah kaca pada tahun 1990 tidak meratifikasinya. Persyaratan itu berhasil dipenuhi ketika tahun 2004, Presiden Rusia Vladimir Putin meratifikasi perjanjian ini, memberikan jalan untuk berlakunya perjanjian ini mulai 16 Februari 2005.

Banyak orang mengkritik Protokol Kyoto terlalu lemah. Bahkan jika perjanjian ini dilaksanakan segera, ia hanya akan sedikit mengurangi bertambahnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Suatu tindakan yang keras akan diperlukan nanti, terutama karena negara-negara berkembang yang dikecualikan dari perjanjian ini akan menghasilkan separuh dari emisi gas rumah kaca pada 2035. Penentang protokol ini memiliki posisi yang sangat kuat. Penolakan terhadap perjanjian ini di Amerika Serikat terutama dikemukakan oleh industri minyak, industri batubara dan perusahaan-perusahaan lainnya yang produksinya tergantung pada bahan bakar fosil. Para penentang ini mengklaim bahwa biaya ekonomi yang diperlukan untuk melaksanakan Protokol Kyoto dapat menjapai 300 milyar dollar AS, terutama disebabkan oleh biaya energi. Sebaliknya pendukung Protokol Kyoto percaya bahwa biaya yang diperlukan hanya sebesar 88 milyar dollar AS dan dapat lebih kurang lagi serta dikembalikan dalam bentuk penghematan uang setelah mengubah ke peralatan, kendaraan, dan proses industri yang lebih effisien.

Pada suatu negara dengan kebijakan lingkungan yang ketat, ekonominya dapat terus tumbuh walaupun berbagai macam polusi telah dikurangi. Akan tetapi membatasi emisi karbon dioksida terbukti sulit dilakukan. Sebagai contoh, Belanda, negara industrialis besar yang juga pelopor lingkungan, telah berhasil mengatasi berbagai macam polusi tetapi gagal untuk memenuhi targetnya dalam mengurangi produksi karbon dioksida.

Setelah tahun 1997, para perwakilan dari penandatangan Protokol Kyoto bertemu secara reguler untuk menegoisasikan isu-isu yang belum terselesaikan seperti peraturan, metode dan pinalti yang wajib diterapkan pada setiap negara untuk memperlambat emisi gas rumah kaca. Para negoisator merancang sistem di mana suatu negara yang memiliki program pembersihan yang sukses dapat mengambil keuntungan dengan menjual hak polusi yang tidak digunakan ke negara lain. Sistem ini disebut perdagangan karbon. Sebagai contoh, negara yang sulit meningkatkan lagi hasilnya, seperti Belanda, dapat membeli kredit polusi di pasar, yang dapat diperoleh dengan biaya yang lebih rendah. Rusia, merupakan negara yang memperoleh keuntungan bila sistem ini diterapkan. Pada tahun 1990, ekonomi Rusia sangat payah dan emisi gas rumah kacanya sangat tinggi. Karena kemudian Rusia berhasil memotong emisinya lebih dari 5 persen di bawah tingkat 1990, ia berada dalam posisi untuk menjual kredit emisi ke negara-negara industri lainnya, terutama mereka yang ada di Uni Eropa.

Pemanasan global (Global Warming) memberi dampak pada berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk pada bidang kesehatan. The Washington Post menggambarkannya dalam sebuah diagram yang menarik:

pemanasan_global_dan_kesehatan

Desember 1, 2008 Posted by | kehutanan | Tinggalkan komentar

Waspadai Makanan dan Penyakit Metabolik Saat Lebaran

PADA hakikatnya, selain untuk beribadah puasa juga proses menjaga kesehatan tubuh. Setelah menahan nafsu terhadap makanan dan minuman selama puasa, biasanya setelah lebaran banyak yang kembali mengkonsumsi makanan tanpa kontrol. Akibatnya, berbagai penyakit pun kembali mengancam. Ada berbagai penyakit yang dapat timbul seputar dan setelah lebaran. Menurut dia, secara garis besar penyakit tersebut adalah yang terjadi seputar mudik lebaran, penyakit kronik yang kambuh saat lebaran dan penyakit yang timbul karena ketidakadaan pembantu rumah tangga. Penyakit yang timbul akibat mudik yang melelahkan adalah penyakit infeksi pernafasan atas dan diare. Perjalanan mudik lebaran terutama yang menggunakan bus, kereta api atau naik ferry (kapal laut) merupakan sesuatu yang melelahkan. Berdesak -desakan, kurang istirahat selama perjalanan dan barang bawaan yang berlebih merupakan keadaan yang umumnya dialami oleh seorang pemudik. Konsumsi makanan dan minuman selama perjalanan yang tidak memadai memungkinkan seorang pemudik mengalami penurunan daya tahan tubuh dan mudah sakit terutama infeksi saluran nafas atas dan infeksi saluran pencernaan seperti diare dan demam tifus. Hal ini juga terbukti dengan banyaknya angka kunjungan pasien dengan infeksi saluran nafas atas dan infeksi saluran pencernaan pada minggu-minggu pertama pada rumah sakit umum daerah. Berbagai penyakit kronik umumnya cenderung akan mengalami kekambuhan setelah selesai menjalankan ibadah puasa. Sebagaimana diketahui, budaya lebaran adalah budaya silahturahmi berkunjung kerumah sanak keluarga dan kerabat. Selama berkunjung ini biasanya mengomsumsi berbagai makanan dan minuman yang umumnya mengandung lemak yang tinggi, manis-manis dan asin. Berbagai minuman kaleng yang bersoda disediakan selama lebaran. Jika makanan-minuman ini dikonsumsi oleh seseorang yang sudah mempunyai penyakit kronik, akan menyebabkan penyakitnya kambuh. Keadaan tersebut akan semakin berat jika pasien tidak menyimpan obat-obatnya dengan cukup. Pasalnya, selama lebaran biasanya sebagian besar apotik dan toko obat akan tutup. Sementara, penyakit juga dapat timbul akibat ketiadaan pembantu rumah tangga. Menjelang lebaran dan satu minggu setelah lebaran biasanya pembantu rumah tangga juga ikut pulang kampung. Akibatnya, rumah kurang dibersihkan. Di sisi, lain petugas pembuang sampah juga ikut libur sehingga banyak sampah yang bertumpuk dan belum terangkat. Keadaaan ini biasanya menyebabkan lebih banyak lalat pada sampah yang bertumpuk tersebut, tikus-tikus akan lebih banyak berkeliaran. Tentunya binatang-binatang yang membawa bibit penyakit ini jika tidak diperhatikan dan tidak dicegah keberadaannya akan membawa dampak juga bagi kesehatan kita. Lalat jelas membawa berbagai penyakit infeksi usus baik yang hanya diare sampai yang berat seperti demam thypoid. Tikus merupakan vektor penting untuk terjadi penyakit demam kuning atau leptospirosis. Pada saat penyimpanan makanan harus diperhatikan, makanan yang matang jangan berdekatan dengan makanan yang mentah sehingga makanan yang matang tidak terkonsumsi dengan bakteri yang kebetulan hidup pada makanan yang mentah tersebut. Yang menjadi masalah kadang kala tidak semua kuman yang mencemari makanan tersebut menyebabkan perubahan bau dan bentuk dari makanan tersebut. Oleh karena itu proses pemanasan makanan tersebut baik secara langsung atau melalui microwave harus tetap dilakukan pada saat makanan tersebut akan dikonsumsi kembali. Sehingga kejadian keracunan makanan yang kerap terjadi selama seputar lebaran tidak terjadi.

November 22, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Berbagai Penyakit Yang Muncul Saat Mudik Dan Lebaran

Puasa Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Setelah puasa Ramadhan kita akan kembali menjalani kehidupan seperti sebelum Ramadhan. Hari Raya Lebaran merupakan minggu ujian bagi kita semua terutama yang melaksanakan puasa dan berlebaran. Berbagai penyakit dapat timbul seputar dan setelah lebaran. Secara garis besar apa saja sih yang harus kita ketahui mengenai penyakit seputar lebaran ini. Perlu dikhawatirkan dan apa apa saja yang harus di antisipasi. Khawatir mungkin boleh, tapi tahu lebih awal dan waspada terhadap gejalanya kan lebih baik. Karena mencegah dan waspada akan lebih baik dampaknya untuk kita.
Ada tiga kategori penyakit yang biasanya datang seputar lebaran, penyakit-penyakit yang muncul itu antara lain :

A.Infeksi Saluran Pernapasan dan Infeksi Saluran Pencernaan
Penyakit yang biasa muncul akibat mudik adalah penyakit infeksi pernafasan atas (ISPA) dan diare. Perjalanan mudik lebaran melalui jalur darat terutama yang menggunakan bus, kereta api atau naik ferry merupakan sesuatu yang melelahkan. Berdesak-desakan, kurang istirahat selama perjalanan dan barang bawaan yang berlebih merupakan keadaan yang umumnya dialami oleh seorang pemudik. Selain itu konsumsi makanan dan minuman selama perjalanan yang tidak memadai memungkinkan seorang pemudik mengalami penurunan daya tahan tubuh dan mudah sakit terutama infeksi saluran nafas atas dan infeksi saluran pencernaan seperti diare dan demam tifus. Hal ini juga terbukti dengan banyaknya angka kunjungan pasien dengan infeksi saluran nafas atas dan infeksi saluran pencernaan yang tinggi dirumah sakit.Sesampainya di kampung para pemudik lebih mengutamakan bertemu sanak famili dari pada istirahat setelah perjalanan mudik yang melelahkan dan hal ini tentunya akan memperburuk kondisi kesehatan para mudik tersebut.

B.Penyakit yang Kambuh Saat Lebaran
Berbagai penyakit kronik umumnya cenderung akan mengalami kekambuhan setelah lebaran. Sebagai mana diketahui budaya lebaran adalah budaya silahturahmi berkunjung kerumah sanak keluarga dan kerabat. Selama berkunjung ini biasanya menkomsumsi berbagai makanan dan minuman. Makanan dan minuman yang disediakan ini biasanya akan lebih banyak dan bervariasi. Umumnya makanan dan minuman tersebut tinggi lemak, manis-manis dan asin. Berbagai minuman kaleng yang bersoda juga disediakan selama lebaran. Tentunya apabila makanan minuman ini jika dikonsumsi oleh seseorang yang sudah mempunyai penyakit kronik, akan menyebabkan penyakitnya mengalami kekambuhan. Pasien dengan penyakit kencing manis akan cenderung gula darahnya menjadi tidak terkontrol karena mengkonsumi makanan yang manis dan dalam jumlah yang banyak. Pasien dengan penyakit darah tinggi tekanan darahnya menjadi tidak terkontrol karena kurang memperhatikan makanannya terutama makanan yang asin-asin. Pasien dengan hiperkolesterol atau asam urat tinggi maka keadaan kolesterol dan asam urat tingginya menjadi bertambah parah sekali lagi karena tidak mengkontrol makanannya.

C.Penyakit Yang Timbul Karena Hygiene dan Sanitasi
Biasanya saat lebaran pembantu rumah tangga juga ikut pulang kampung sehingga rumah kurang bersih. Sampah yang bertumpuk dan belum terangkat. Keadaaan ini biasanya menyebabkan lebih banyak lalat pada sampah yang bertumpuk tersebut, tikus-tikus akan lebih banyak berkeliaran karena begitu banyak sampah yang menumpuk selain itu juga nyamuk akan lebih banyak. Binatang yang kotor keberadaannya akan membawa dampak juga bagi kesehatan kita. Lalat membawa berbagai penyakit infeksi usus baik yang hanya diare sampai yang berat seperti demam thypoid. Tikus merupakan faktor yang penting untuk terjadi penyakit demam kuning atau leptospirosis. Nyamuk terutama yang berada sekitar rumah tentu akan menjadi sumber penyakit jika nyamuk tersebut merupakan nyamuk aedes aegypti yang membawa virus DHF. Kecenderungan menyimpan makanan sebanyak-banyaknya di kulkas sering terjadi karena Pembantu tidak ada. Selain itu juga ada kecenderungan untuk menyimpan makanan di meja makan atau pada suhu kamar dalam waktu yang lama. Sehingga pada saat dikomsumsi selanjutnya, lupa untuk dipanaskan kembali, sehingga makanan yang terkontaminasi bakteri yang kebetulan hidup pada makanan yang tersebut. Jadi jangan lupa memanaskan makanan

Sedia selalu stok obat

Kali ini kita mencoba berbagi seputar persiapan obat-obatan. Walau nampak sepele, gak ada salahnya kita bahas, dengan harapan dapat membantu bagi yang memerlukan. Hal ini wajar mengingat saat Lebaran tidak mudah menemui dokter. Secara umum, obat yang perlu dibawa sebagai bekal mudik adalah obat-obat yang biasa digunakan atas rekomendasi dokter (dokter langganan) atau obat daftar W (obat bebas) yang emang biasa dipakai dan dirasa dapat membantu mengurangi keluhan tertentu. Meski begitu, kita tetap akan membuat daftar sederhana obat-obat bekal mudik sekaligus ringkasan khasiat dan dosisnya. Setidaknya diharapkan dapat membantu sebelum pergi ke dokter jika memang diperlukan ke dokter.

Obat Anti Mabuk ( anti muntah)
Obat golongan ini biasa digunakan untuk mencegah mabuk, mual dan vertigo. Untuk mencegah mabuk, diminum sekitar 30 menit sebelum naik kendaraan (paling bagus dalam keadaan perut kosong). Untuk keluhan seperti ini biasanya dipergunakan Dimenhydrinate 50 mg ( Antimo). Obat golongan Domperidone (Dometa, Vometa, Vomitas). Digunakan untuk anti mual-muntah dan diminum dalam keadaan perut kosong.

Obat Penurun Panas.
Parasetamol atau Asetaminofen. Selain untuk penurun panas, dapat juga digunakan untuk pereda sakit kepala ringan. Untuk anak-anak sebaiknya dalam bentuk sirup.

Analgesik ( pereda nyeri )
Obat-obat ini lazim digunakan untuk sakit kepala, sakit gigi, nyeri sendi dan tulang, nyeri otot. Untuk menghindarkan reaksi alergi sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Obat Asma
Bagi penderita asma, silahkan membekali diri dengan obat-obat yang udah biasa diberikan oleh dokter. Jenis dan bentuk sediaannya beragam. Berdasarkan bentuknya, ada yang berbentuk tablet, kapsul, kaplet, sirup, semprot, suntikan. Sedangkan berdasarkan kandungannya juga banyak. (Teofilin, Aminofilin, dll).

Antasida (yang berhubungan dengan keluhan lambung)
Obat-obat untuk menanggulangi keluhan lambung seperti: mual, rasa penuh di lambung, nyeri, perih ulu hati, kembung sangat beragam. Silahkan menghubungi dokter masing-masing untuk bekal mudik Lebaran.

Selain obat-obat di atas, pada umumnya kita udah tahu obat-obat yang diperlukan dalam perjalanan hingga kembali ke rumah, misalnya: obat untuk batuk pilek, obat rhinitis alergika (pilek, bersin, buntu), obat alergi, dan lain-lain.

Adakalanya seseorang memerlukan bekal obat yang biasa diminum dalam jangka panjang, misalnya: obat diabet, obat anti hipertensi, obat jantung dan lain-lain. Untuk itu, sebelum mudik seyogyanya minta resep ke dokter langganan masing-masing atau nebus obat ke dokter dispensing bagi yang tinggal di ndeso dan gak ada apotik, agar setidaknya dapat menanggulangi untuk sementara jika tanpa disangka mengalami gangguan kesehatan.

Pada akhirnya, antisipasi mengenai penyakit seputar lebaran merupakan hal penting dan layak untuk kita sampaikan kepada masyarakat kita, agar mereka tetap waspada akan berbagai penyakit yang timbul seputar lebaran.

Minal Aidin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir Batin

November 22, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar